Petualangan Menyusuri Malioboro ala Emak Sundul

Jika sebelum-sebelumnya saya lebih memilih mager alias males gerak ketika menemani suami bertugas di kota orang, karena takut nyasar, merepotkan, dsb. Maka kali ini saat di jogja atas ajakan seorang sahabat, saya memberanikan diri menerima tawarannya menyusuri pedestrian di kawasan malioboro jogja yang baru saja di resmikan.

Berbekal gendongan carrier bobita, dengan membayangkan perjalanan panjang menyusuri jalanan malioboro maka saya juga menyewa stroller dari sebuah rental yang ada di jogja. Tujuannya meskipun kakak adik mengantuk saya tidak perlu bingung harus bagaimana menggendong ke duanya.
Ternyata prediksi saya meleset, karena baik kakak maupun adik tidak mengantuk sama sekali. Bahkan keduanya sama-sama tidak mau duduk di stroller ataupun digendong saat jalan.
Sehingga saya pun harus rela mendorong stroller kosong sembari menggandeng adek sekaligus mengawasi jalan kakak yang “ngebut”.
Beberapa kali saya rayu salah satu mereka untuk bersedia duduk di stroller, ternyata hanya bertahan sebentar saja.
Beruntungnya ada sahabat saya, Bunda Utari yang sembari menghandel putri pertamanya tetap membantu saya mengawasi salah satu dari mereka.

Oke Kita Istirahat Dulu Sambil Photo-Photo Ya

Meski demikian tak dipungkiri hati saya serasa mencelos bolak balik. Pandangan ini harus benar-benar fokus nggak boleh lepas dari kakak adik. Bisa bayangkan gimana saat saya sekilas mengawasi adik lalu si kakak tak terlihat karena “nyempil” di depan duluan.

Sepanjang jalan nggak capek-capeknya mulut berteriak memanggil “Kakakkkkk … Adikkkkk … Kakakkkkk … Adikkkkkk …”. Sampai mulut ini ndower rasanya dibuatnya …

Ketika yang satunya asyik santai jalan pelan-pelan yang lainnya sudah “ngeloyor” duluan, belum lagi tiba-tiba yang satu tanpa aba-aba “melipir” ke kanan atau ke kiri. Jangan tanya apa kabar bedak? Luntur sudah !!! 😂

Rugi banget kalau ternyata lemak nggak nyusut sebanyak 2 kilo 😅
Disitu saya langsung merindukan stroller tandem andalan saya…😂😂😂

Dan saya hanya bisa berkata dalam hati, “Vety ini baru ngejar 2 bocah lo, katanya resolusi 2017 mau nambah anak lagi”. Apa kabarnya kalo harus nguber 3 balita 😂😅

Tapi memang seru dan disitu seninya jadi emak “sundul” 😂

Beruntung sepanjang jalan pedestrian ada banyak kursi duduk, sehingga sesekali saya bisa menyempatkan duduk hanya sekedar mengambil nafas panjang 😅

Akhirnya perjalanan kami akhiri dengan memesan lumpia dan es dawet campur yang paling terkenal enak di malioboro.

Rombong Lumpia
Rombong Es Dawet Campur

Susut lemak 2 kilo dibayar lunas dengan lumpia dan es dawet campur. Lemaknya langsung balik modal.

Es Dawet Campur Yang Ngehits di Malioboro

Kami pun memutuskan kembali ke hotel 101 menggunakan jasa transportasi andong (delman), dengan budget Rp. 100.000,-

Saya dan sahabat saya sih kurang tahu harga segitu memang harga standartnya atau terlalu mahal. Tapi melihat rutenya yang harus muter dan lumayan (sedikit) jauh, saya sih merasanya sebanding ya jarak sama rutenya (sok tau aja sih ini).

Diatas Delman

Saya anggap sebanding harganya, daripada hati saya harus mencelos bolak balik nguber dua balita sepanjang jalan.

Yeiii Nyampe Depan Hotel Juga

Oh ya, tadinya saat berangkat kami menggunakan transport becak dari hotel 101 ke ujung jl. Malioboro dengan tarif Rp. 20.000,- per becak dan menggunakan 2 becak, yang artinya jika ditotal menjadi Rp. 40.000,-

Jadi apa saja yang harus dipersiapkan saat memutuskan mau jalan bareng 2 balita kita?

  • Tenaga ekstra
  • stamina harus fit
  • Bawa air putih
  • Jangan lupa ajak si kakak ke toilet untuk pipis sebelum mulai petualangan bersama 2 balita kita
  • Bawa duit
  • Cari lokasi yang nyaman, setidaknya ada banyak kursi duduk saat kita butuhkan
  • Jika lelah ayo langsung pulang

14 comments
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You May Also Like